Minggu, 04 April 2010

Mewaspadai Demam Kejang

Kejang demam pada anak balita dapat menyebabkan kerusakan pada otak bahkan dapat menyebabkan kelumpuhan dan retardasi mental.

1. Kejang Demam Bukan Epilepsi
Demam adalah keluhan pada anak yang sering dijumpai hingga usia 2 tahun, rata-rata menderita demam sekitar 4-6 kali serangan. Secara sederhana, demam di definisikan sebagai “peningkatan suhu tubuh di atas normal”, meski tidak semua kenaikan suhu tubuh disebut sebagai demam. Suhu tubuh di atas 38 C atau di atas 37,5 C per ketiak, dianggap sebagai suhu yang abnormal ( demam ). Riset menunjukkan, demam di bawah suhu 40 C berdampak positif yaitu dapat menghambat pertumbuhan bakteri dan virus.Namun, bila suhu tubuh badan sudah di atas 40 C akan mengganggu fungsi organ, sehingga berisiko kematian.
Hal ini disebabkan karena demam berkaitan dengan peningkatan metabolism, konsumsi oksigen dan produksi karbondioksida. Penelitian lain menyebutkan selama suhu tubuh tidak melebihi 41,7 C maka kerusakan otak tidak akan terjadi. Suhu tubuh yang tinggi pada anak dapat menimbulkan serangan kejang.Tetapi setiap anak memiliki ambang kejang yang berbeda. Pada anak dengan ambang kejang rendah, pada suhu 38 C pun bisa terjadi kejang. Sedangkan pada anak dengan ambang kejang tinggi, kejang baru terjadi pada suhu 40 C atau lebih.
Menurut dr. Dwi P. Widodo, kejang diartikan sebagai kontraksi otot yang berlebihan di luar kehendak. Kejang dapat disertai demam, disebut kejang demam ( KD ), bisa juga tanpa disertai demam. Menurut dr. Dwi, KD dibedakan menjadi 2 jenis. Pertama, KD sederhana yang berlangsung kurang dari 15 menit dan sama sekali tidak menimbulkan kerusakan otak atau membahayakan jiwa. Kedua, KD kompleks yang berlangsung lebih dari 15 menit dan bisa terjadi lebih dari 1 kali dalam 24 jam. Pada KD kompleks, umumnya anak mempunyai kelainan saraf atau riwayat kejang dari keluarganya.
“ Serangan yang lebih lama dan terus menerus bisa mengganggu pere peredaran darah ke otak, kekurangan oksigen, gangguan keseimbangan air dan elektrolit. Akhirnya mengakibatkan kerusakan otak. KD berbeda dengan epilepsi, kejang epilepsi terjadi berulang terus menerus dan tanpa diawali demam. Sedangkan KD cenderung tidak berulang, tidak terus menerus dan diawali demam. “Kejang demam biasanya disebabkan oleh penyakit seperti infeksi saluran pernafasan, infeksi saluran cerna, infeksi saluran kemih atau penyakit lain.
2. Balita Sangat Rawan
KD atau biasa disebut step, umum terjadi pada anak-anak. Faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya KD adalah:
• Suhu tubuh. Kenaikan susu tubuh adalah pencetus terjadinya KD.
• Usia. Menurut IDAI ( Ikatan Dokter Anak Indonesia ), kejadian KD pada anak usia 6 bulan-5 tahun, yaitu sekitar 2-5%. Insiden tertinggi terjadi pada usia 2 tahun dan menurun setelah berumur 4 tahun. Hal ini kemungkinan disebkan oleh peningkatan ambang kejang sesuai dengan bertambahnya usia.
• Jenis kelamin. Riset menunjukkan, KD sering terjadi pada anak laki-laki daripada perempuan.
• Faktor keturunan. Memegang peranan penting untuk terjadinya KD.
3. Kejang Demam Berakibat Fatal.
KD dapat berakibat fatal, peningkatan susu tubuh akan menyebabkan peningkatan metabolisme basal ( jumlah minimal energi yang dibutuhkan untuk mempertahankan fungsi vital tubuh ). Kenaikan suhu tubuh sebesar 1 C, dapat meningkatkan metabolisme basal 10-15%. Sementar itu, kebutuhan oksigen pada otak meningkat sebesar 20%. “Pada usia balita, aliran darah ke otak lebih besar daripada orang dewasa, yakni mencapai 65% dari aliran seluruh tubuh pada balita. Pada orang dewasa 15%, itu sebabnya kenaikan suhu tubuh pada usia balita lebih mudah menyebabkan gangguan pada metabolisme otak. Konsekuensi dari gangguan metabolisme otak adalah keseimbangan sel otak akan terganggu. Akibatnya, terjadi pelepasan muatan listrik yang menyebar ke seluruh jaringan otak.
4. Tips Mengukur Suhu Tubuh
Cara: Mudah mengukur suhu tubuh anak adalah dengan menggunakan thermometer aural yang diletakkan di telinga. Bisa juga dengan menggunakan thermometer standar yang diletakkan di ketiak, mulut atau rectal. Untuk memperoleh angka yang tepat, tambahkan 0,6 C ke angka hasil pengukuran pada ketiak.
5. Gejala Kejang Demam
- Kehilangan kesadaran atau pingsan
- Tubuh, kaki dan tangan menjadi kaku
Biasanya kepala anak terkulai ke belakang, di susul munculnya gerakan kejut yang kuat dan kejang-kejang.
- Kulit, berubah menjadi pucat bahkan kebiruan
Kadang-kadang disertai muntah
- Pada beberapa anak, nafas bisa berhenti beberapa saat
- Tidak bisa mengontrol buang air kecil atau besar


Sumber: OTC DIGEST edisi 34 Tahun III 9 JUNI 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar