Kamis, 12 Mei 2011

STRESS

STRESS

Stres adalah suatu kondisi anda yang dinamis saat seorang individu dihadapkan pada peluang, tuntutan, atau sumber daya yang terkait dengan apa yang dihasratkan oleh individu itu dan yang hasilnya dipandang tidak pasti dan penting. Stress adalah beban rohani yang melebihi kemampuan maksimum rohani itu sendiri, sehingga perbuatan kurang terkontrol secara sehat. Stres tidak selalu buruk, walaupun biasanya dibahas dalam konteks negatif, karena stres memiliki nilai positif ketika menjadi peluang saat menawarkan potensi hasil.

Sebagai contoh, banyak profesional memandang tekanan berupa beban kerja yang berat dan tenggat waktu yang mepet sebagai tantangan positif yang menaikkan mutu pekerjaan mereka dan kepuasan yang mereka dapatkan dari pekerjaan mereka. Stres bisa positif dan bisa negatif, para peneliti berpendapat bahwa stres tantangan, atau stres yang menyertai tantangan di lingkungan kerja, beroperasi sangat berbeda dari stres hambatan, atau stres yang menghalangi dalam mencapai tujuan.Meskipun riset mengenai stres tantangan dan stres hambatan baru tahap permulaan, bukti awal menunjukan bahwa stres tantangan memiliki banyak implikasi yang lebih sedikit negatifnya dibanding stres hambatan.

Sumber-sumber potensi stress

1. FAKTOR LINGKUNGAN

Selain memengaruhi desain struktur sebuah organisasi, ketidakpastian lingkungan juga mempengaruhi tingkat stres para karyawan dan organisasi. Perubahan dalam siklus bisnis menciptakan ketidakpastian ekonomi, misalnya, ketika ekonomi memburuk orang merasa cemas terhadap kelangsungan pekerjaannya.

2. FAKTOR ORGANISASI

Banyak faktor di dalam organisasi yang dapat menyebabkan stres. Tekanan untuk menghindari kesalahaan atau menyelesaikan tugas dalam waktu yang mepet, beban kerja yang berlebihan, atasan yang selalu menuntut dan tidak peka, dan rekan kerja yang tidak menyenangkan adalah beberapa di antaranya. Hal ini dapat mengelompokkan faktor-faktor ini menjadi tuntutan tugas, peran, dan antarpribadi. Tuntutan tugas adalah faktor yang terkait dengan pekerjaan seseorang. Tuntutan tersebut meliputi desain pekerjaan individual, kondisi kerja, dan tata letak fisik pekerjaan.

Sebagai contoh, bekerja di ruangan yang terlalu sesak atau di lokasi yang selalu terganggu oleh suara bising dapat meningkatkan kecemasan dan stres. Dengan semakin pentingnya layanan pelanggan, pekerjaan yang menuntut faktor emosional bisa menjadi sumber stress. Tuntutan peran berkaitan dengan tekanan yang diberikan kepada seseorang sebagai fungsi dari peran tertentu yang dimainkannya dalam organisasi. Konflik peran menciptakan ekspektasi yang mungkin sulit untuk diselesaikan atau dipenuhi. Tuntutan antarpribadi adalah tekanan yang diciptakan oleh karyawan. Tidak adanya dukungan dari kolega dan hubungan antarpribadi yang buruk dapat meyebabkan stres, terutama di antara para karyawan yang memiliki kebutuhan sosial yang tinggi.

3. Faktor pribadi

Faktor-faktor pribadi terdiri dari masalah keluarga, masalah ekonomi pribadi, serta kepribadian dan karakter yang melekat dalam diri seseorang. Survei nasional secara konsisten menunjukkan bahwa orang sangat mementingkan hubungan keluarga dan pribadi. berbagai kesulitan dalam hidup perkawinan, retaknya hubungan, dan kesulitan masalah disiplin dengan anak-anak adalah beberapa contoh masalah hubungan yang menciptakan stress.Masalah ekonomi karena pola hidup yang lebih besar pasak daripada tiang adalah kendala pribadi lain yang menciptakan stres bagi karyawan dan mengganggu konsentrasi kerja karyawan.

Studi terhadap tiga organisasi yang berbeda menunjukkan bahwa gejala-gejala stres yang dilaporkan sebelum memulai pekerjaan sebagian besar merupakan varians dari berbagai gejala stres yang dilaporkan sembilan bulan kemudian. Hal ini membawa para peneliti pada kesimpulan bahwa sebagian orang memiliki kecenderungan kecenderungan inheren untuk mengaksentuasi aspek-aspek negatif dunia secara umum. Jika kesimpulan ini benar, faktor individual yang secara signifikan memengaruhi stres adalah sifat dasar seseorang. Artinya, gejala stres yang diekspresikan pada pekerjaan bisa jadi sebenarnya berasal dari kepribadian orang itu.

Akibat Stres

Stres menampakkan diri dengan berbagai cara. Sebagai contoh, seorang individu yang sedang stres berat mungkin mengalami tekanan darah tinggi, seriawan, jadi mudah jengkel, sulit membuat keputusan yang bersifat rutin, kehilangan selera makan, rentan terhadap kecelakaan, dan sebagainya. Akibat stres dapat dikelompokkan dalam tiga kategori umum: gejala fisiologis, gejala psikologis, dan gejala perilaku. Pengaruh gejala stres biasanya berupa gejala fisiologis. Terdapat riset yang menyimpulkan bahwa stres dapat menciptakan perubahan dalam metabolisme, meningkatkan detak jantung dan tarikan napas, menaikkan tekanan darah, menimbulkan sakit kepala, dan memicu serangan jantung.

Stres yang berkaitan dengan pekerjaan dpat menyebabkan ketidakpuasan terkait dengan pekerjaan. Ketidakpuasan adalah efek psikologis sederhana tetapi paling nyata dari stres. Namun stres juga muncul dalam beberapa kondisi psikologis lain, misalnya, ketegangan, kecemasan, kejengkelan, kejenuhan, dan sikap yang suka menunda-nunda pekerjaan. Gejala stres yang berkaitan dengan perilaku meliputi perubahan dalam tingkat produktivitas, kemangkiran, dan perputaran karyawan, selain juga perubahan dalam kebiasaan makan, pola merokok, konsumsi alkohol, bicara yang gagap, serta kegelisahan dan ketidakteraturan waktu tidur.

Ada banyak riset yang menyelidiki hubungan stres-kinerja. Pola yang paling banyak dipelajari dalam literatur stres-kinerja adalah hubungan terbalik. Logika yang mendasarinya adalah bahwa tingkat stres rendah sampai menengah merangsang tubuh dan meningkatkan kemampuannya untuk bereaksi. Pola terbalik ini menggambarkan reaksi terhadap stres dari waktu ke waktu dan terhadap perubahan dalam intensitas stres.

Istilah stress dikemukakan oleh Hans Selye (dalam Sehnert, 1981) yang mendefinisikan stress sebagai respon yang tidak spesifik dari tubuh pada tiap tuntutan yang dikenakan padanya. Lazarus (1976) mengemukakan bahwa stress adalah suatu keadaan psikologis individu yang disebabkan karena individu dihadapkan pada situasi internal dan eksternal. Stres tidak saja kondisi yang menekan seseorang ataupun keadaan fisik ataupun psikologis seseorang maupun reaksinya terhadap tekanan tadi, akan tetapi stress adalah keterkaitan antar ketiganya (Prawitasari, 1989). Karena banyaknya definisi mengenai stress, maka Safarino (1994) mencoba mengkonseptualisasikan ke dalam tiga pendekatan, yaitu stimulus, respons, dan proses.

  1. STIMULUS

Kita dapat mengetahui hal ini dari pilihan seseorang terhadap sumber atau penyebab ketegangan berupa keadaan atau situasi dan peristiwa tertentu. Keadaan atau situasi dan peristiwa yang dirasakan mengancam atau membahayakan yang menghasilkan perasaan tegang disebut stressor. Beberapa ahli yang menganut pendekatan ini mengkategorikan stressor menjadi tiga, yaitu: (a) peristiwa katastropik, misalnya angina tornado atau gempa bumi, (b) peristiwa hidup yang penting, misalnya pekerjaan atau orang yang dicintai, (c) keadaan kronis, misalnya hidup dalam kondisi sesak dan bising.

  1. RESPONS

Respons adalah reaksi seseorang terhadap stressor. Untuk itu dapat diketahui dari dua komponen yang saling berhubungan, yaitu: komponen psikologis dan komponen fisiologis.

    1. Komponen psikologis, seperti perilaku, pola berpikir, dan emosi.
    2. Komponen fisiologis, seperti detak jantung, mulut yang mongering (sariawan), keringat, dan sakit perut.

Kedua respon tersebut disebut dengan strain atau ketegangan.

  1. PROSES

Stres sebagai suatu proses terdiri dari stressor dan strain ditambah dengan satu dimensi penting yaitu hubungan antara manusia dengan lingkungan. Proses ini melibatkan interaksi interaksi dan penyesuaian diri yang kontinu yang disebut juga dengan istilah transaksi antara manusia dengan lingkungan yang didalamnya termasuk perasaan yang dialami dan bagaimana orang lain merasakannya.

Cox (dalam Crider dkk, 1983) mengemukakan 3 model stress, yaitu: Response-Based model, Stimulus-Based model, dan Interactional model.

  1. Response-Based model

Stres model ini mengacu sebagai sekelompok gangguan kejiwaan dan respon-respon psikis yang timbul pada situasi sulit. Model ini mencoba untuk mengidentifikasikan pola-pola kejiwaan dan respon-respon kejiwaan yang diukur pada lingkungan yang sulit. Pusat perhatian dari model ini adalah bagaimana stressor yang berasal dari peristiwa lingkungan yang berbeda-beda dapat menghasilkan respon stress yang sama.

  1. Stimulus-Based model

Tiga karakteristik penting dari stimuli stress adalah sebagai berikut:

(1) Overload

Karakteristik ini diukur ketika sebuah stimulus datang secara intens dan individu tidak dapat menghadapi lebih lama lagi.

(2) Conflict

Konflik diukur ketika sebuah stimulus secara simultan membangkitkan dua atau lebih respon-responyang tidak berkesesuaian.

(3) Uncontrollability

Uncontrollability adalah peristiwa-peristiwa dari kehidupan yang bebas atau tidak tergantung pada perilaku dimana pada situasi ini menunjukkan tingkat stress yang tinggi.

  1. Interaction model

Model ini memperkirakan bahwa stress dapat diukur ketika dua kondisi bertemu, yaitu:

  1. Ketika individu menerima ancaman akan motif dan kebutuhan penting yang dimilikinya. Jika telah berpengalaman stress sebelumnya, individu harus menerima bahwa lingkungan mempunyai ancaman pada motif-motif atau kebutuhan penting pribadi.
  2. Ketika individu tidak mampu untuk mengcoping stressor.

Pengertian coping lebih merujuk pada kesimpulan total dari metode personal, dapat dipergunakan untuk menguasai situasi yang penuh. Coping termasuk rangkaian dari kemampuan untuk bertindak pada lingkungan dan mengelola gangguan emosional, kognitif serta reaksi psikis.

JENIS STRES

Holahan (1981) menyebutkan jenis stress yang dibedakan menjadi dua bagian, yaitu systemic stress dan psychological stress. Systemic stress didefinisikan oleh Selye (dalam Holahan, 1981) sebagai respon non spesifik dari tubuh terhadap beberapa tuntutan lingkungan. Ia menyebut kondisi-kondisi pada lingkungan yang menghasilkan, misalnya racun kimia atau temperatur ekstrim sebagai stressor.

Selye mengidentifikasikan tiga tahap dalam respon sistemik tubuh terhadap kondisi-kondisi penuh stress yang diistilahkan General Adaption syndrome (GAS).

Tahap pertama adalah alarm reaction dari system otonom termasuk didalamnya peningkatan sekresi adrenalin, detak jantung, tekana darah dan otot menegang. Tahap ini bisa diartikan sebagai pertahanan tubuh.

Tahap kedua adalah resistence atau adaptasi yang didalamnya termasuk berbagai macam respon coping secara fisik.

Tahap ketiga adalah exhaustion atau kelelahan akan terjadi kemudian apabila stesor datang secara intens dan dalam jangka waktu yang cukup lama dan jika usaha-usaha perlawanan gagal untuk menyelesaikan secara adekuat.

SUMBER STRES (STRESSOR)

Lazarus dan Cohen (dalam Evans, 1982) mengemukakan bahwa terdapat tiga sumber stress, (a) fenomena catalismic, yaitu hal-hal atau kejadian-kejadian yang tiba-tiba, khas, dan kejadian yang menyangkut banyak orang seperti bencana alam, perang, banjir, dsb. (b) Kejadian-kejadian yang memerlukan penyesuaian atau coping seperti pada fenomena catalismic meskipun berhubungan dengan orang yang lebih sedikit seperti respon seseorang terhadap penyakit atau kematian. (c) Daily hassles, yaitu masalah yang ssering dijumpai di dalam kehidupan sehari-hari yang menyangkut ketidakpuasan kerja atau masalah-masalah lingkungan seperti kesesakan atau kebisingan karena polusi.

Stres juga berkaitan erat dengan psikologi lingkungan, stres yang diakibatkan oleh kepadatan dalam ruang dengan penilaian kognitif akan mengakibatkan denyut jantung bertambah tinggi dan tekanan darah menaik, sebagai reaksi stimulusyang tidak diinginkan. Dengan kondisi tersebut, maka seseorang yang berusaha mengatasi situasi stress akan memasuki tahapan kelelahan karena energinya telah banyak digunakan untuk mengatasi situasi stress. Bangunan yang tidak memperhatikan kebutuhan fisik, psikologis dan sosial merupakan sumber stress bagi penghuninya.

Apabila perumahan tidak memperhatikan kenyamanan penghuni, misalnya pengaturan udara yang tidak memadai, maka penghuni tidak dapat beristirahat dan tidur dengan nyaman. Akibatnya, penghuni seringkali lelah dan tidak dapat bekerja secara efektif dan ini akan mempengaruhi kesejahteraan fisik maupun mentalnya. Penghuni selalu waspada dan akan mengalami kelelahan fisik maupun mental. Hubungan antara manusia sangat penting, untuk itu perumahan juga sebaiknya memperhatikan kebutuhan tersebut.

Pembangunan perumahan yang tidak menyediakan tempat umum dimana para warga dapat berinteraksi satu sama lain akan membuat mereka sulit berhubungan satu sama lain atau perumahan yang tidak memperhatikan ruang pribadi masing-masing anggotanya akan dapat merupakan sumber stress bagi penghuninya (Zimring dalam Prawitasari, 1989). Fontana (1989) menyebutkan bahwa stress lingkungan berasal dari sumber yang berbeda-beda seperti tetangga yang rebut, jalan menuju bangunan tempat kerja yang mengancam nilai atau kenikmatan salah satu milik atau kekayaan, dan kecemasan finansial atas ketidakmampuan membayar pengeluaran-pengeluaran rumah tangga.

Baum, Singer dan Baum (dalam Evans, 1982) mengartikan stress lingkungan dalam tiga faktor, yaitu: (1) stressor fisik (misalnya, suara), (2) penerimaan individu terhadap stressor yang dianggap sebagai ancaman (appraisal of the stressor), (3) dampak stressor pada organisme (dampak fisiologis).

Fontana (1989) menyebutkan bahwa sumber utama dari stress di dalam dan sekitar rumah adalah sebagai berikut:

a. Stres karena teman kerja (partner)

b. Stres karena anak-anak

c. Stres karena pengaturan tempat tinggal setempat

d. Tekanan-tekanan lingkungan

Berikut ini akan disajikan hal-hal yang berhubungan dengan coping behavior, yaitu pengertian coping behavior, coping behavior dan kepadatan, serta coping behavior kesesakan.

Coping behavior, ketika seseorang mempersepsikan lingkungannya terdapat dua kemungkinan yang terjadi. Pertama, rangsang-rangsang yang dipersepsikan tersebut akan berada pada dalam batas-batas optimal sehingga akan timbul kondisi keseimbangan (homeostatis). Kedua, rangsang-rangsang tersebut berada di atas batas optimal (overstimulation) atau dibawahnya (underestimate).

Coping behavior dan kepadatan. Kepadatan tinggi merupakan stressor lingkungan yang dapat menimbulkan kesesakan bagi individu yang berada didalamnya (Holahan, 1982). Stresor lingkungan, menurut Stokols (dalam Brigham, 1991) merupakan salah satu aspek lingkungan yang dapat menyebabkan stress, penyakit atau akibat-akibat negatif pada perilaku masyarakat. Pada fase pertama, menerangkan bahwa kepadatan yang tinggi kadang-kadang dapat menjadi faktor penyebab stress.

Hal ini mungkin berdampak buruk atau tidak bagi seseorang, keadaan ini tergantung pada:

    1. Perbedaan individu,seperti jenis kelamin
    2. Keadaan atau situasi seperti waktu pada lokasi tertentu
    3. Kondisi sosial, seperti hubungan antara orang-orang yang berada disana dan intensitas interaksi.

Jika aspek negatif dari kepadatan tinggi itu tidak menonjol, maka lingkungan akan dipersiapkan ke dalam suatu keadaan yang optimal dan efek negatif tidak akan terjadi bila ketidakleluasaan dari kepadatan tinggi menonjol maka kesesakan akan terjadi. Kesesakan ini merupakan keadaan psikologis yang dapat menyebabkan stress. Selanjutnya pada fase kedua, seseorang dalam keadaan stress akan mengadakan coping, bila coping berhasil dilakukan individu, maka individu akan dapat beradaptasi dan terbiasa dengan keadaan tersebut, sedangkan bila coping tidak berhasil dilakukan individu, maka individu akan kehilangan kemampuan untuk melakukan adaptasi, sehingga akhirnya dapat menyebabkan gangguan fisik maupun mental, putus asa, tidak berdaya, dll.

Coping Behavior dan Kesesakan. Kesesakan dapat dirasakan sebagai suatu pengalaman yang kadang-kadang menyenangkan dan kadang-kadang tidak menyenangkan. Kadang-kadang situasi yang sesak justru dapat dinikmati, misalnya saja dalam suatu pertandingan olah raga di stadion besar, jika penonton hanya sedikit tentu suasana akan menjadi kurang meriah dan hal ini dapat mempengaruhi pemain. Dalam pesta, pameran, pertunjukan seni, dan sejenisnya orang lebih suka kalau suasananya ramai.

Konsekuensi negatif dari kesesakan diterangkan oleh Jain (dalam Awaldi, 1990) menjadi lima asumsi. Pertama, model stimulus berlebih. Dalam kondisi banyak orang, akan muncul stimulus-stimulus berlebih dari luar yang minta ditanggapi. Asumsi pertama ini sesuai dengan teori information overload. Kedua, model perilaku terbatas. Perilaku yang dapat dikerjakan seseorang di dalam suasana dengan kepadatan tinggi dan penuh sesak cenderung terbatas. Ketiga, model ekologi-dalam model ini dikatakan bahwa perilaku negatif yang muncul akibat suasana sumpek dan padat hanya terjadi pada situasi dimana pilihan-pilihan dan sumber yang tersedia sedikit.

Keempat, model atribusi-akibat negatif dari kepadatan dan kesumpekan hanya terjadi di tempat dan situasi tertentu. Kelima, model arousal-model terakhir ini menerangkan bahwa kepadatan dan kesumpekan akan menyebabkan terstimulinya perangkat-perangkat fisiologis, menaikan tekanan darah dan menimbulkan stress.

Stres dapat mempengaruhi perilaku individu ketika berhadapan dengan dunia luar terutama dunia sekitar. Hal itu dapat saja terjadi, karena orang yang mengalami stress agak sulit untuk menentukan perilaku baik apa yang akan ditampilkan dihadapan orang lain. Orang yang stress lebih sering berperilaku aneh, kasar, cuek, tidak mau peduli dengan dirinya sendiri dan orang lain, cenderung agresif, sensitif, bahkan bisa dikatakan perilaku yang ditampilkan cenderung kacau. Ia sudah tidak memiliki pemikiran yang sehat, sehingga orang yang stress tidak dapat di tebak. Misalnya saja, orang yang sedang mengalami stress karena memikirkan pekerjaan kantor yang begitu banyak ditambah lagi teman sekerja yang tidak bisa diajak kerja sama, serta atasan yang tidak bisa mengerti keadaan karyawan lama-kelamaan orang tersebut merasa tertekan yang mengakibatkan dirinya mengalami stress. Di kantor orang tersebut, menjadi lebih pendiam dan tertutup, senang menyendiri, melamun, lesu, kurang bergairah dalam bekerja, tidak nafsu makan, dan menjadi lebih pemarah dan sensitif jika perilakunya merasa diperhatikan oleh orang lain. Jadi, perilaku kita dalam kehidupan sehari-hari dapat menentukan apakah diri kita mengalami stress atau tidak.


Sumber:

Arsitektur, Psikologi, dan Masyarakat.

www.wikipedia.stress dan penyebabnya.com

www.pskologi zone.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar