Sabtu, 19 Februari 2011

Analisis terhadap adanya Pengaruh Lingkungan dan Perilaku Masyarakat Terhadap Kejadian Malaria di Kabupaten Barito Selatan

Ada beragam variasi lingkungan dan tiap lingkungan terdiri dari berbagai kepribadian orang yang tentunya berpengaruh terhadap perilaku individu dalam masyarakat. Pada kesempatan kali ini saya akan berusaha menganalis masalah yang terjadi karena adanya pengaruh lingkungan dan perilaku masyarakat terhadap kejadian malaria di kabupaten Barito Selatan. Sesuai teori lingkungan yang dikatakan oleh Veitch&Arkklein (1995), yaitu variabel bebas atau variabel yang mempengaruhi dalam jurnal ini yaitu pengaruh lingkungan dan variabel terikat atau variabel yang dipengaruhi yaitu perilaku masyarakat.

Penyakit malaria merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh Plasmodium (Klas Sporozoa) yang menyerang sel darah merah. Proses terjadinya penularan malaria di suatu daerah meliputi 3 (tiga) faktor utama, yaitu: (1) Adanya penderita baik dengan adanya gejala klinis ataupun tanpa gejala klinis, (2) Adanya nyamuk atau vektor, (3) Adanya manusia yang sehat ( Depkes RI, 1995a). Faktor kesehatan lingkungan fisik, kimia, biologis, dan sosial budaya sangat berpengaruh terhadap penyebaran penyakit malaria di Indonesia. Pernyataan tersebut sangatlah berkaitan dengan unsur-unsur dari pengertian psikologi lingkungan yang dikemukakan oleh Veitch&Arkklein yang menyatakan bahwa perspektif disiplin ilmu terbagi atas 2 macam, yaitu: (1) Disiplin yang terkait, terdiri dari meterologi dan geofisika, fisika, kimia, arsitek, dan biologi, (2) Ahli, terdiri dari ahli geologi, ahli fisika, ahli kimia, ahli ekologi, arsitek.

Kesehatan lingkungan mempelajari dan menangani hubungan manusia dengan lingkungan dalam keseimbangan ekosistem dengan tujuan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal melalui pencegahan terhadap penyakit dan gangguan kesehatan dengan mengendalikan faktor lingkungan yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan dari Kurt Lewin mengenai Field Theory (teori medan) yang menyatakan bahwa tingkah laku adalah fungsi dari pribadi dan lingkungan. Interaksi lingkungan dengan pembangunan saat ini maupun yang akan datang saling berpengaruh.

Apabila ditinjau dari segi manusia, interaksi dengan alam ini dimaksudkan untuk mendapatkan keuntungan tetapi bila sumber daya alam tidak mendukung kesehatan manusia maka bisa terjadi keadaan sebaliknya, antara lain terjadinya penyakit malaria. Pengambilan metode penelitian pada jurnal ini menggunakan data yang dikumpulkan meliputi suhu, kelembaban, PH air, vegetasi sekitar rumah penduduk, musuh alami jentik nyamuk Anopheles, pendidikan, pekerjaan, konstruksi rumah, kepadatan vektor (angka kepadatan jentik dan man biting rate), penyuluhan tentang penyakit malaria oleh petugas kesehatan setempat serta perilaku masyarakat yang meliputi pengetahuan, sikap, dan tindakan. Pernyataan diatas sangat berkaitan dengan teori dua bentuk kualitas lingkungan yang dikemukakan oleh Wrightsman&Deaux, 1981), yang menyatakan bahwa kualitas fisik dari keadaan yang mengelilingi individu seperti sound, cahaya, warna, temperature, kelembaban termasuk ke dalam Ambient Condition, sedangkan setting-setting permanent seperti ruangan -> konfigurasi dinding. Lantai, atap, dekorasi, dll termasuk ke dalam Architektural Features.

Orang yang bertempat kerjanya di hutan mempunyai resiko untuk tertular penyakit malaria karena dihutan merupakan tempat hidup dan berkembangbiaknya nyamuk Anopheles sp dengan kepadatan yang tinggi. Hutan merupakan lingkungan alamiah (natural environment) yang merupakan salah satu jenis-jenis lingkungan di dalam sosio-lingkungan yang dikemukakan oleh Sarwono. Lingkungan fisik yang diperkirakan berpengaruh terhadap kejadian malaria adalah suhu, kelembaban, dan konstruksi rumah penduduk. Pada kelembaban yang tinggi nyamuk menjadi lebih aktif dan lebih sering menggigit sehingga meningkatkan penularan penyakit malaria.

Lingkungan kimia yang berhubungan dengan kejadian malaria adalah PH dan salinitas air. Adanya danau, genangan air, persawahan, kolam ataupun parit di suatu daerah yang merupakan tempat perindukan nyamuk sehingga meningkatkan kemungkinan timbulnya penularan penyakit malaria. Lingkungan biologi meliputi ada tidaknya vegetasi di sekitar rumah penduduk dan ada tidaknya musuh alami yaitu ikan pemakan jentik nyamuk. Perilaku masyarakat yang berhubungan dengan kejadian malaria terdiri dari empat vaiabel, yaitu pengetahuan, sikap, tindakan, dan penyuluhan.

Semakin baik tindakan dalam upaya pencegahan dan pemberantasan terhadap penyakit malaria maka akan semakin berkurang resiko untuk terjadinya penularan penyakit malaria, dan sebaliknya. Sikap seseorang dipengaruhi oleh pengalaman sendiri atau orang lain yang berada di sekitarnya. Bila dihubungkan dengan teori bahwa suatu sikap belum tentu terwujud dalam tindakan, maka mungkin saja responden menjawab pertanyaan dengan hal-hal yang yang baik saja namun sikap dari jawaban tersebut tidak diwujudkan dalam tindakan yang nyata. Jadi, Faktor kesehatan lingkungan fisik, kimia, biologis, dan sosial budaya sangat berpengaruh terhadap penyebaran penyakit malaria di Indonesia.

Referensi:

Jurnal kesehatan lingkungan, vol 2, no. 2, Januari 2006:121-128

Tidak ada komentar:

Posting Komentar