Skor tes Intelegensi. Mereka yang memiliki skor di bawah 70 hingga 75, dua deviasi standar di bawah rata-rata populasi, memenuhi criteria “fungsi intelektual umum secara signifikan di bawah rata-rata. Penentuan IQ harus didasarkan pada berbagai tes yang diberikan kepada seseorang oleh seorang professional yang kompeten dan terlatih dengan baik. Interpretasi skor harus mempertimbangkan keterbatasan budaya, bahasa, dan penginderaan atau motorik yang dapat mempengaruhi performa.
a. Fungsi Adaptif. Merujuk pada penguasaan keterampilan masa kanak-kanak seperti menggunakan toilet dan berpakaian, memahami konsep waktu dan uang, mampu menggunakan peralatan, berbelanja, dan melakukan perjalanan dengan transportasi umum, dan mengembangkan responsivitas sosial. Tes yang paling terkenal adalah Adaptive Behavior Scale, atau ABS ( Nihira dkk., 1975 ), dan Vineland Adaptive Behavior Scales ( Sparrow, Ballo, & Cicchetti, 1984 ).
b. Usia Onset. Kriteria dalam definisi retardasi mental adalah gangguan ini terjadi sebelum usia 18 tahun, mencegah mengklasifikasikan kelemahan inteligensi dan perilaku adaptif yang disebabkan oleh cedera atau sakit yang terjadi dalam hidup sebagai retardasi mental.
Selasa, 16 Maret 2010
Kriteria Retardasi Mental dalam DSM-IV-TR
(1) Fungsi intelektual yang secara signifikan berada di bawah rata-rata, IQ kurang dari 70. (2) Kurangnya fungsi soaial adaptif dalam dua bidang: komunikasi, mengurus diri sendiri, kehidupan keluarga, keterampilan interpersonal, penggunaan sumber daya komunitas, kemampuan untuk mengambil keputusan sendiri, keterampilan akademik fungsional, rekreasi, pekerjaan, kesehatan dan keamanan. (3) Onset sebelum usia 18 tahun.
Jumat, 12 Maret 2010
pengukuran Cacat mental
3. Pengukuran Terhadap Mental Retardation
Pengukuran MR hanya dapat dilakukan sampai penderita berusia 16 sampai 18 tahun karena mental age-nya sudah tidak lagi mengalami perubahan. Jadi dapat dikatakan bahwa di atas usia itu IQ akan tetap. Bila setelah usia 18 tahun kita tetap memperhatikan perubahan CA-nya maka dapat dihasilkan angka IQ 0,….. ( ingat bahwa IQ= MA/CA, bila MA tetap dan CA terus bertambah, maka akan dihasilkan angka yang sangat kecil ). IQ dengan angka 0,…… harus kita hindari, oleh karena itu bila kita menghitung IQ seorang penderita MR yang berusia 33 tahun, maka CA ( usia kalender/usia kronologis ) yang kita gunakan adalah maksimal 18 tahun.
Sumber: Suryabrata, S. 1995. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Raja Grafindo Persada.
Walgito, B. 1993. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi Offset.
Pengukuran MR hanya dapat dilakukan sampai penderita berusia 16 sampai 18 tahun karena mental age-nya sudah tidak lagi mengalami perubahan. Jadi dapat dikatakan bahwa di atas usia itu IQ akan tetap. Bila setelah usia 18 tahun kita tetap memperhatikan perubahan CA-nya maka dapat dihasilkan angka IQ 0,….. ( ingat bahwa IQ= MA/CA, bila MA tetap dan CA terus bertambah, maka akan dihasilkan angka yang sangat kecil ). IQ dengan angka 0,…… harus kita hindari, oleh karena itu bila kita menghitung IQ seorang penderita MR yang berusia 33 tahun, maka CA ( usia kalender/usia kronologis ) yang kita gunakan adalah maksimal 18 tahun.
Sumber: Suryabrata, S. 1995. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Raja Grafindo Persada.
Walgito, B. 1993. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi Offset.
karakteristik cacat mental
2. Karekteristik Cacat Mental
Pada para penderita cacat mental terdapat beberapa karakteristik yang menunjukkan adanya ciri-ciri khusus penderita, yaitu:
a. Keterbatasan intelektual ( IQ berkisar antara 75 ke bawah )
b. Kesulitan dalam memenuhi tuntutan sosial
c. Adaptive Behaviour( perilaku penyesuaian diri ), penderita sangat buruk.
Contoh: cara makan, nasi berhamburan ( belum mencapai tahap sopan santun dalam makan, misalnya tidak boleh berbicara, tidak boleh mengecap, bersuara, dsb).
Oleh karena itu dapat kita katakan bahwa masalah cacat mental merupakan fenomena sosiocultural yang kompleks karena melibatkan hal-hal yang kompleks dalam hal:
• Hubungan antar keluarga
• Hambatan dalam pembangunan ( SDM rendah dan tidak dapat berfungsi dengan baik)
• Menjadi beban bagi semua orang
• Secara biologis berkembang dengan normal, tetapi secara psikologis, sosial dan moral tidak mengalami perkembangan yang normal dalam aspek biologisnya. Contohnya, bila ia ingin memenuhi kebutuhan biologis dalam ikatan keluarga, apakah secara sosial ia nantinya dapat bertanggun jawab dalam pengasuhan anaknya, apakah secara psikologis hubungan biologis itu didasarkan atas cinta dan kebutuhan emosional atau hanya sebagai aktivitas biologis, dan apakah secara moral ia dapat mempertanggungjawabkannya?. Perkembangan moral sangat berkaitan dalam perkembangan kognitif ( Kohlberg ), oleh karena itu penderita cacat mental perkembangan kognitifnya terhambat, maka dapat dipastikan perkembangan moralnya pun akan mengalami hambatan.
Pada para penderita cacat mental terdapat beberapa karakteristik yang menunjukkan adanya ciri-ciri khusus penderita, yaitu:
a. Keterbatasan intelektual ( IQ berkisar antara 75 ke bawah )
b. Kesulitan dalam memenuhi tuntutan sosial
c. Adaptive Behaviour( perilaku penyesuaian diri ), penderita sangat buruk.
Contoh: cara makan, nasi berhamburan ( belum mencapai tahap sopan santun dalam makan, misalnya tidak boleh berbicara, tidak boleh mengecap, bersuara, dsb).
Oleh karena itu dapat kita katakan bahwa masalah cacat mental merupakan fenomena sosiocultural yang kompleks karena melibatkan hal-hal yang kompleks dalam hal:
• Hubungan antar keluarga
• Hambatan dalam pembangunan ( SDM rendah dan tidak dapat berfungsi dengan baik)
• Menjadi beban bagi semua orang
• Secara biologis berkembang dengan normal, tetapi secara psikologis, sosial dan moral tidak mengalami perkembangan yang normal dalam aspek biologisnya. Contohnya, bila ia ingin memenuhi kebutuhan biologis dalam ikatan keluarga, apakah secara sosial ia nantinya dapat bertanggun jawab dalam pengasuhan anaknya, apakah secara psikologis hubungan biologis itu didasarkan atas cinta dan kebutuhan emosional atau hanya sebagai aktivitas biologis, dan apakah secara moral ia dapat mempertanggungjawabkannya?. Perkembangan moral sangat berkaitan dalam perkembangan kognitif ( Kohlberg ), oleh karena itu penderita cacat mental perkembangan kognitifnya terhambat, maka dapat dipastikan perkembangan moralnya pun akan mengalami hambatan.
CACAT MENTAL ATAU MENTAL RETARDATION ATAU TUNA GRAHITA
1. Pengertian
Grahita dalam bahasa Jawa berarti pikir atau memahami, jadi Tuna Grahita adalah ketidakmampuan dalam berpikir. Pengertian cacat mental atau mental retardation ( MR ) pada mulanya memang mengacu pada aspek kognitif saja ( ketidakmampuan dalam berpikir ), tetapi ternyata aspek kognitif yang rendah ini juga akan berpengaruh dalam fungsi-fungsi psikologi yang lain. Barometer international tentang cacat mental dapat kita lihat dalam AAMD ( American Association on Mental Deficiency ). Di Indonesia seperti AAMD memang belum ada, tetapi ada beberapa patokan khusus yang dapat kita gunakan dalam PPDGJ III ( Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa III ).
Sumber: Suryabrata, S. 1995. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Raja Grafindo Persada.
Walgito, B. 1993. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi Offset.
Grahita dalam bahasa Jawa berarti pikir atau memahami, jadi Tuna Grahita adalah ketidakmampuan dalam berpikir. Pengertian cacat mental atau mental retardation ( MR ) pada mulanya memang mengacu pada aspek kognitif saja ( ketidakmampuan dalam berpikir ), tetapi ternyata aspek kognitif yang rendah ini juga akan berpengaruh dalam fungsi-fungsi psikologi yang lain. Barometer international tentang cacat mental dapat kita lihat dalam AAMD ( American Association on Mental Deficiency ). Di Indonesia seperti AAMD memang belum ada, tetapi ada beberapa patokan khusus yang dapat kita gunakan dalam PPDGJ III ( Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa III ).
Sumber: Suryabrata, S. 1995. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Raja Grafindo Persada.
Walgito, B. 1993. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi Offset.
Kamis, 11 Maret 2010
si kecil suka berbohong
Orangtua mana yang prihatin jika si anak sudah mulai berbohong. Siapa yang harus disalahkan jika si kecil pandai bersilat lidah?. Orangtua sekarang yang kadang lebih banyak menghabiskan waktu di luar karena pekerjaan ketimbang di rumah. Bisa jadi tidak bisa berbuat banyak kecuali mempercayakan anak kepada baby sister atau pengasuhnya. Kemampuan pengasuh yang kadang tidak sesuai dengan keinginan orangtua bisa jadi kendala. Apalagi jika anak sudah mulai suka berbohong.
Menurut Ratih Ibrahim, salah satu psikolog perkembangan mengungkapkan tiga kelompok berbohong, (1) Anak berbohong bisa jadi karena imajinasi. Untuk mengetahui benar atau tidaknya anak berimajinasi, maka ikuti saja cerita yang dalam pembicaraannya sering di tambah-tambah sebagai imajinasi. (2) Anak berbohong karena mencontoh orangtua atau pengasuhnya. Misalnya ibu atau bapak bilang pergi sebentar, ternyata kembalinya lama.
Sehingga anak menilai orangtuanya berbohong.(3) Anak berbohong karena merasa tidak aman atau ketakutan. Anak mungkin juga berbohong untuk mencari atau mendapatkan perhatian. Upaya untuk mengatasi anak berbohong adalah orangtua harus mawas diri dan harus dipercaya sehingga anak belajar kejujuran dan dihargai serta juga diajarkan tentang kejujuran. Orang tua itu menjadi role model untuk anak. Di luar tiga hal itu, kebohongan anak juga bisa menjadi penanda kecerdasan si anak. Mungkin juga dia tricky sehingga memanipulasi untuk mendapatkan yang dia inginkan.
Untuk mengetahui anak berbohong atau tidak, bisa di lihat dari ekspresi wajah dan gerakan badannya.
Tanda berbohong dari setiap aspek di atas berbeda-beda. Untuk anak yang masih berbaur yang benar dan imajinasi dapat diamati tentang cerita yang dikarangnya dann diarahkan ke arah yang benar. Jika si kecil berbohong karena merasa tidak aman atau takut, tanda berbohong akan tampak dari gaya dan kegelisahan. Kebanyakan si anak tidak berani melakukan eye contact saat berbohong.
Karena itu, lihat saja mata sementara hatinya ngomong tidak benar, hal itu menyebabkan berkeringat atau gelisah. Anak kecil sebenarnya suka menguji hipotesa. Jika ia mengatakan hal ini akibatnya akan seperti apa. Anak juga sering kali diberitahukan berbagai peraturan salah satunya tak boleh berbohong. Tetapi orangtuanya malah mencontohkan yang berlawanan dengan itu. Anak akan kebingungan dan mempertanyakan nilai kehidupan sebenarnya seperti apa.
Disini anak sedang menguji hipotesanya. Dia akan menangkap semua informasi yang ada di sekelilingnya. Orang tua harus konsisten dengan apa yang dikatakannya. Hukuman harus disesuaikan dengan tingkat kebohongan si anak. Hindari hukuman yang bersifat cecian bahkan kekerasan, kecuali anak itu sudah tidak mempan lagi dengan hukuman peringatan. Kekerasan memang sangat tidak dianjurkan, karena biasanya bukan menimbulkan efek jera pada anak tetapi melukai perasaannya. Jika hukuman diberikan dengan kekerasan da tidak diberitahukan alasan anak itu terkena hukuman, anak akan bingung.
Alhasil, bukannya anak berubah, tetapi malah mencari cara lain dengan lebih berhati-hati agar kebohongannya tidak diketahui oleh orangtuanya. Dia akan lebih berhati-hati dalam berbohong untuk menghindari hukuman berupa kekerasan atau cacian yang dapat melukai perasaannya. Jika anak berbohong, pasti dia memiliki alasan tertentu. Karena itulah tanyakan dulu apa alasannya, kemudia berikan hukuman yang sesuai. Tanamkan kembali bahwa berbohong adalah hal yang tidak boleh sama sekali dilakukan dengan alasan apapun.
Jika anak telah mengerti, orang tua pun harus memuji anaknya karena berani mengakui kebohongan dan menjalani hukuman itu. Jika anak terlanjur menjadi seorang pembohong, maka orangtua harus memulai proses penanaman nilai kebenaran dari awal dan terus menerus hingga anak bisa berubah. Orang tua tidak boleh membela anaknya jika benar ia salah. Orangtua harus mendorong anaknya untuk menjalani hukuman itu. Tetapi yakini sang anak bahwa orangtuanya akan selalu mendampingi anaknya dalam kondisi apapun.
Tujuh langkah hadapi kebohongan si kecil, (1) Fokus pada tingkah laku si anak yang tidak tepat. Orangtua sebaiknya memberi perhatian pada kebohongan si kecil bukan menutupinya. (2) Atur nafas. Menemukan kebohongan si kecil jangan dihadapi dengan emosi. Atur nafas dan tetap bersikap lembut. (3) Ajak si kecil berbicara. Ajari dia mana yang benar dan mana yang salah. Atur pembicaraan sekalem mungkin dan selembut mungkin. (4) Ajari si kecil mengatur perbuatannya. Anak harus mengerti penilaian umum atas perbuatan yang baik atau salah.
(5) Pancing keraguan si anak. Dengan ragu, anak bisa diberi pengertian mana yang seharusnya benar dan tidak perlu berbohong. (6) Jika si anak sudah mau jujur, bicarakan situasi yang lain yang memungkinkan dia akan kembali berbohong. (7) Jangan beri anak label pembohong. Anak akan defensif jika orangtua mendakwanya sebagai pembohong.
Sumber: Bisnis Indonesia.co.id ( edisi Minggu 10 Januari 2010 )
Menurut Ratih Ibrahim, salah satu psikolog perkembangan mengungkapkan tiga kelompok berbohong, (1) Anak berbohong bisa jadi karena imajinasi. Untuk mengetahui benar atau tidaknya anak berimajinasi, maka ikuti saja cerita yang dalam pembicaraannya sering di tambah-tambah sebagai imajinasi. (2) Anak berbohong karena mencontoh orangtua atau pengasuhnya. Misalnya ibu atau bapak bilang pergi sebentar, ternyata kembalinya lama.
Sehingga anak menilai orangtuanya berbohong.(3) Anak berbohong karena merasa tidak aman atau ketakutan. Anak mungkin juga berbohong untuk mencari atau mendapatkan perhatian. Upaya untuk mengatasi anak berbohong adalah orangtua harus mawas diri dan harus dipercaya sehingga anak belajar kejujuran dan dihargai serta juga diajarkan tentang kejujuran. Orang tua itu menjadi role model untuk anak. Di luar tiga hal itu, kebohongan anak juga bisa menjadi penanda kecerdasan si anak. Mungkin juga dia tricky sehingga memanipulasi untuk mendapatkan yang dia inginkan.
Untuk mengetahui anak berbohong atau tidak, bisa di lihat dari ekspresi wajah dan gerakan badannya.
Tanda berbohong dari setiap aspek di atas berbeda-beda. Untuk anak yang masih berbaur yang benar dan imajinasi dapat diamati tentang cerita yang dikarangnya dann diarahkan ke arah yang benar. Jika si kecil berbohong karena merasa tidak aman atau takut, tanda berbohong akan tampak dari gaya dan kegelisahan. Kebanyakan si anak tidak berani melakukan eye contact saat berbohong.
Karena itu, lihat saja mata sementara hatinya ngomong tidak benar, hal itu menyebabkan berkeringat atau gelisah. Anak kecil sebenarnya suka menguji hipotesa. Jika ia mengatakan hal ini akibatnya akan seperti apa. Anak juga sering kali diberitahukan berbagai peraturan salah satunya tak boleh berbohong. Tetapi orangtuanya malah mencontohkan yang berlawanan dengan itu. Anak akan kebingungan dan mempertanyakan nilai kehidupan sebenarnya seperti apa.
Disini anak sedang menguji hipotesanya. Dia akan menangkap semua informasi yang ada di sekelilingnya. Orang tua harus konsisten dengan apa yang dikatakannya. Hukuman harus disesuaikan dengan tingkat kebohongan si anak. Hindari hukuman yang bersifat cecian bahkan kekerasan, kecuali anak itu sudah tidak mempan lagi dengan hukuman peringatan. Kekerasan memang sangat tidak dianjurkan, karena biasanya bukan menimbulkan efek jera pada anak tetapi melukai perasaannya. Jika hukuman diberikan dengan kekerasan da tidak diberitahukan alasan anak itu terkena hukuman, anak akan bingung.
Alhasil, bukannya anak berubah, tetapi malah mencari cara lain dengan lebih berhati-hati agar kebohongannya tidak diketahui oleh orangtuanya. Dia akan lebih berhati-hati dalam berbohong untuk menghindari hukuman berupa kekerasan atau cacian yang dapat melukai perasaannya. Jika anak berbohong, pasti dia memiliki alasan tertentu. Karena itulah tanyakan dulu apa alasannya, kemudia berikan hukuman yang sesuai. Tanamkan kembali bahwa berbohong adalah hal yang tidak boleh sama sekali dilakukan dengan alasan apapun.
Jika anak telah mengerti, orang tua pun harus memuji anaknya karena berani mengakui kebohongan dan menjalani hukuman itu. Jika anak terlanjur menjadi seorang pembohong, maka orangtua harus memulai proses penanaman nilai kebenaran dari awal dan terus menerus hingga anak bisa berubah. Orang tua tidak boleh membela anaknya jika benar ia salah. Orangtua harus mendorong anaknya untuk menjalani hukuman itu. Tetapi yakini sang anak bahwa orangtuanya akan selalu mendampingi anaknya dalam kondisi apapun.
Tujuh langkah hadapi kebohongan si kecil, (1) Fokus pada tingkah laku si anak yang tidak tepat. Orangtua sebaiknya memberi perhatian pada kebohongan si kecil bukan menutupinya. (2) Atur nafas. Menemukan kebohongan si kecil jangan dihadapi dengan emosi. Atur nafas dan tetap bersikap lembut. (3) Ajak si kecil berbicara. Ajari dia mana yang benar dan mana yang salah. Atur pembicaraan sekalem mungkin dan selembut mungkin. (4) Ajari si kecil mengatur perbuatannya. Anak harus mengerti penilaian umum atas perbuatan yang baik atau salah.
(5) Pancing keraguan si anak. Dengan ragu, anak bisa diberi pengertian mana yang seharusnya benar dan tidak perlu berbohong. (6) Jika si anak sudah mau jujur, bicarakan situasi yang lain yang memungkinkan dia akan kembali berbohong. (7) Jangan beri anak label pembohong. Anak akan defensif jika orangtua mendakwanya sebagai pembohong.
Sumber: Bisnis Indonesia.co.id ( edisi Minggu 10 Januari 2010 )
Rabu, 03 Maret 2010
Gangguan Pemusatan Perhatian/Hiperaktivitas ( ADHD )
1. Pengertian
Salah satu gangguan eksternalisasi adalah gangguan pemusatan perhatian/ hiperaktivitas ( ADHD ). Seorang anak yang selalu bergerak, mengetuk-ngetuk jari, menggoyang-goyangkan kaki, mendorong tubuh anak lain tanpa alasan yang jelas, berbicara tanpa henti, dan bergerak gelisah sering kali disebut hiperaktif. Anak-anak tersebut juga sulit berkonsentrasi pada tugas yang sedang dikerjakannya dalam waktu yang tertentu yang wajar. Diagnosis ADHD tidak tepat untuk anak-anak yang rebut, aktif, atau agak mudah teralih perhatiannya karena di tahun-tahun awal sekolah anak-anak sering berperilaku demikian ( Whalen, 1983 ).
Anak-anak yang mengalami ADHD tampak mengalami kesulitan untuk mengendalikan aktivitas mereka dalam berbagai situasi yang menghendaki mereka duduk tenang, seperti di dalam kelas atau saat makan. Bila disuruh untuk tenang, mereka tampaknya tidak bisa berhenti bergerak atau berbicara. Mereka terdisorganisasi, eratik, tidak berperasaan, keras kepala, dan bossy. Aktivitas dan gerakan mereka tampak tidak teratur dan tidak terarah. Mereka membuat pakaian dan sepatu mereka cepat rusak, merusak mainan, dan menghabiskan tenaga orang tua dan guru-guru mereka.
Meskipun demikian, mereka sulit dibedakan dari anak-anak yang tidak mengalami ADHD ketika sedang bermain bebas, di mana hanya terdapat sedikit pembatasan pada perilaku. Hal ini mengindikasikan bahwa anak-anak yang tidak mengalami ADHD juga dapat sama ributnya dan sama di luar batasnya dengan anak-anak yang mengalami ADHD bila tidak ada batasan-batasan dari orang dewasa. Banyak anak yang mengalami ADHD mengalami kesulitan besar untuk bermain bersama anak-anak seusia mereka dan menjalin persahabatan ( Hinshaw & Melnick, 1995; Whalen & Henker, 1985 ), mungkin karena perilaku mereka sering kali agresif dan secara umum tidak menyenangkan serta mengganggu bagi yang lain.
Anak-anak ADHD yang agresif bermain dengan tujuan mencari sensasi, seperti membuat keributan, berusaha mendominasi, dan pamer, sedangkan anak-anak pembanding lebih mungkin memiliki tujuan untuk bermain sportif ( Melnick & Hinshaw, 1996 ). Anak-anak ADHD dapat mengetahui tindakan yang dibenarkan secara sosial dalam berbagai situasi hipotesis, namun tidak mampu mempraktikkan pengetahuan tersebut ke dalam perilaku yang sesuai dalam interaksi sosial yang nyata ( Whalen & Henker, 1985, 1999 ). Anak-anak ADHD sering kali dengan cepat dijauhi dan ditolak atau diabaikan oleh teman-teman seusia mereka.
2. Tiga macam simton ADHD
Karena simton-simton ADHD bervariasi, DSM-IV-TR mencantumkan tiga subkategori, yaitu sebagai berikut:
- Tipe Predominan inatentif: Anak-anak yang masalah utamanya adalah rendahnya konsentrasi.
- Tipe Predominan Hiperaktif-impulsif: anak-anak yang masalah terutama diakibatkan oleh perilaku hiperaktif-impulsif.
- Tipe kombinasi: Anak-anak yang mengalami kedua rangkaian masalah di atas.
Tipe kombinasi merupakan tipe yang paling banyak dialami oleh anak-anak ADHD. Anak-anak tersebut lebih mungkin mengalami berbagai masalah tingkah laku dan menunjukkan perilaku oposisi, dimasukkan dalam berbagai kelas khusus untuk anak-anak yang mengalami gangguan perilaku, dan mengalami kesulitan untuk berinteraksi dengan anak-anak seusia mereka ( Barkley dkk., 1990; Faraone dkk., 1998 ). Tidak jelas apakah beberapa perbedaan yang tampak antara tipe kombinasi dan tipe predominan inatentif juga terdapat pada anak-anak perempuan dengan ADHD ( a.l., Biederman dkk., 1999; Hinshaw, di media; Hinshaw dkk., di media ).
Kesulitan dalam membedakan diagnosis adalah antara ADHD dan gangguan tingkah laku ( GTL ), yang mencakup pelanggaran besar terhadap norma-norma sosial. ADHD lebih berhubungan dengan perilaku tidak mengerjakan tugas di sekolah, kelemahan kognitif dan rendahnya prestasi, dan prognosis jangka panjang lebih baik. Anak-anak yang mengalami gangguan tingkah laku bertingkah di sekolah dan dimana pun kemungkinan jauh lebih agresif serta mungkin memiliki orang tua yang anti sosial. Bila kedua gangguan tersebut dialami oleh seorang anak, karakteristik yang paling buruk dari masing-masing gangguan tersebut akan terwujud dalam perilakunya.
ADHD dapat terjadi lebih dulu, dengan perilaku buruk si anak yang menimbulkan reaksi keras dari teman-teman sebaya dan orang dewasa; kemudian situasi tersebut memburuk dengan serangan balik yang lebih ekstrem, yang akhirnya menghasilkan perilaku agresif yang merupakan karakteristik gangguan tingkah laku. Gangguan internalisasi, seperti kecemasan dan depresi, juga sering kali dialami bersamaan dengan ADHD. Sangat banyak bukti yang mengindikasikan bahwa ADHD lebih banyak terjadi pada anak laki-laki daripada anak perempuan, namun angka pastinya tergantung pada apakah sampel tersebut diambil dari rujukan klinis atau dari populasi umum.
Sebagian besar anak yang meman mengalami ADHD menunjukkan aktivitas berlebihan dan perilaku temperamental pada usia yang cukup dini. Rasa ingin tahu mereka yang berlebihan dan sangat energetik dalam bermain membuat perlindungan anak menjadi hal penting untuk mencegah berbagai tragedi seperti keracunan tanpa sengaja, jatuh terjungkal dari tangga, dan jatuh dari jendela. Masa-masa prasekolah sangat penuh stress bagi orang tua yang memiliki anak ADHD, masalah yang timbul semakin besar ketika anak-anak mulai bersekolah dan mendadak diharuskan untuk duduk tenang dalam waktu yang cukup lama, menyelesaikan tugas-tugas secara mandiri, dan bernegosiasi dengan teman-teman sebaya di lapangan bermain.
3. Teori Biologis ADHD
Faktor genetik. Bila orang tua mengalami ADHD, sebagian anak mereka kemungkinan memiliki gangguan tersebut ( Biederman dkk., 1995 ). Mengenai apa tepatnya yang diturunkan dalam keluarga hingga kini belum diketahui, namun berbagai studi baru-baru ini menunjukkan bahwa fungsi dan struktur otak berbeda pada anak-anak dengan dan tanpa ADHD.
Faktor-faktor Perintal dan Pranatal. Berat lahir rendah, contohnya merupakan prediktor yang cukup spesifik bagi perkembangan ADHD ( a.l., Breslau dkk., 1996; Whitaker dkk., 1997 ).
Racun Lingkungan. Beberapa teori ADHD terdahulu yang cukup popular pada tahun 1970-an menyangkut peran berbagai racun lingkungan dalam terjadinya hiperaktivitas. Feingold mengemukakan bahwa zat-zat aditif pada makanan mempengaruhi kerja sistem saraf pusat pada anak-anak hiperaktif dan ia meresepkan diet tanpa zat aditif. Pendapat popular bahwa gula putih dapat menyebabkan ADHD ( Smith, 1975 ) tidak di dukung oleh peneliti teliti ( Wolraich, Wilson, & While, 1995 ). Nikotin, terutama merokok ketika hamil merupakan racun lingkungan yang dapat berperan dalam terjadinya ADHD.
4. Teori Psikologis ADHD
Psikoanalisis anak, Bruno Bettelheim ( 1973 ) mengemukakan teori diathesis-stres mengenai ADHD, yang menyatakan bahwa hiperaktivitas terjadi bila suatu predisposisi terhadap gangguan tersebut dipasangkan dengan pola asuh yang otoritarian. Jika seorang anak yang mengalami disposisi aktivitas yang berlebihan dan mudah berubah moodnya mengalami stress karena orang tua yang mudah menjadi tidak sabar dan marah, si anak dapat menjadi tidak mampu manghadapi tuntutan orang tuanya untuk selalu patuh. Dengan terbentuknya pola perilaku mengganggu dan tidak patuh, si anak tidak dapat mengatasi berbagai tuntutan di sekolah, dan perilakunya sering kali bertentangan dengan berbagai aturan di kelas.
5. Penanganan ADHD
ADHD umumnya ditangani dengan pemberian obat dan berbagai metode behavioral berdasarkan pengkondisian operant.
Pemberian Obat Stimulan. Obat-obat stimulant, khususnya metilfenidat, atau Ritalin, telah diresepkan bagi ADHD sejak awal tahun 1960-an ( Sprague & Gadow, 1976 ). Obat-obat yang digunakan untuk menangani ADHD mengurangi perilaku mengganggu dan meningkatnya kemampuan untuk berkonsentrasi. Mungkin uji coba klinis terkendali secara random dengan desain terhadap penanganan ADHD adalah Multimodal Treatment of Children with ADHD, atau studi MTA. Studi tersebut dilakukan di enam lokasi yang berbeda selama 14 bulan terhadap hampir 600 anak ADHD, membandingkan tiga jenis penanganan, yaitu (1) pemberian obat saja, (2) pemberian obat ditambah dengan penanganan behavioral intensif, melibatkan orang tua dan guru; dan (3) penanganan behavioral saja.
Penanganan Psikologis. Selain pemberian obat, penanganan yang paling menjanjikan bagi anak-anak dengan ADHD mencakup pelatihan bagi orang tua dan perubahan manajemen kelas berdasarkan prinsip-prinsip pengkondisian operant. Dalam berbagai penangan tersebut, perilaku anak-anak dipantau di rumah dan di sekolah, dan mereka diberi penguat untuk berperilaku sesuai harapan, contohnya tetap duduk di kursi dan mengerjakan tugas-tugas mereka. Fokus program operant ini adalah meningkatkan karya akademik, menyelesaikan tugas-tugas rumah, atau belajar keterampilan sosial spesifik, dan bukan mengurangi tanda-tanda hiperaktivitas, seperti berlari ke sana ke mari dan menggoyang-goyangkan kaki.
Sumber:
PSIKOLOGI ABORMAL ( jilid 7 )
ANNE M.KRING, dkk..
Salah satu gangguan eksternalisasi adalah gangguan pemusatan perhatian/ hiperaktivitas ( ADHD ). Seorang anak yang selalu bergerak, mengetuk-ngetuk jari, menggoyang-goyangkan kaki, mendorong tubuh anak lain tanpa alasan yang jelas, berbicara tanpa henti, dan bergerak gelisah sering kali disebut hiperaktif. Anak-anak tersebut juga sulit berkonsentrasi pada tugas yang sedang dikerjakannya dalam waktu yang tertentu yang wajar. Diagnosis ADHD tidak tepat untuk anak-anak yang rebut, aktif, atau agak mudah teralih perhatiannya karena di tahun-tahun awal sekolah anak-anak sering berperilaku demikian ( Whalen, 1983 ).
Anak-anak yang mengalami ADHD tampak mengalami kesulitan untuk mengendalikan aktivitas mereka dalam berbagai situasi yang menghendaki mereka duduk tenang, seperti di dalam kelas atau saat makan. Bila disuruh untuk tenang, mereka tampaknya tidak bisa berhenti bergerak atau berbicara. Mereka terdisorganisasi, eratik, tidak berperasaan, keras kepala, dan bossy. Aktivitas dan gerakan mereka tampak tidak teratur dan tidak terarah. Mereka membuat pakaian dan sepatu mereka cepat rusak, merusak mainan, dan menghabiskan tenaga orang tua dan guru-guru mereka.
Meskipun demikian, mereka sulit dibedakan dari anak-anak yang tidak mengalami ADHD ketika sedang bermain bebas, di mana hanya terdapat sedikit pembatasan pada perilaku. Hal ini mengindikasikan bahwa anak-anak yang tidak mengalami ADHD juga dapat sama ributnya dan sama di luar batasnya dengan anak-anak yang mengalami ADHD bila tidak ada batasan-batasan dari orang dewasa. Banyak anak yang mengalami ADHD mengalami kesulitan besar untuk bermain bersama anak-anak seusia mereka dan menjalin persahabatan ( Hinshaw & Melnick, 1995; Whalen & Henker, 1985 ), mungkin karena perilaku mereka sering kali agresif dan secara umum tidak menyenangkan serta mengganggu bagi yang lain.
Anak-anak ADHD yang agresif bermain dengan tujuan mencari sensasi, seperti membuat keributan, berusaha mendominasi, dan pamer, sedangkan anak-anak pembanding lebih mungkin memiliki tujuan untuk bermain sportif ( Melnick & Hinshaw, 1996 ). Anak-anak ADHD dapat mengetahui tindakan yang dibenarkan secara sosial dalam berbagai situasi hipotesis, namun tidak mampu mempraktikkan pengetahuan tersebut ke dalam perilaku yang sesuai dalam interaksi sosial yang nyata ( Whalen & Henker, 1985, 1999 ). Anak-anak ADHD sering kali dengan cepat dijauhi dan ditolak atau diabaikan oleh teman-teman seusia mereka.
2. Tiga macam simton ADHD
Karena simton-simton ADHD bervariasi, DSM-IV-TR mencantumkan tiga subkategori, yaitu sebagai berikut:
- Tipe Predominan inatentif: Anak-anak yang masalah utamanya adalah rendahnya konsentrasi.
- Tipe Predominan Hiperaktif-impulsif: anak-anak yang masalah terutama diakibatkan oleh perilaku hiperaktif-impulsif.
- Tipe kombinasi: Anak-anak yang mengalami kedua rangkaian masalah di atas.
Tipe kombinasi merupakan tipe yang paling banyak dialami oleh anak-anak ADHD. Anak-anak tersebut lebih mungkin mengalami berbagai masalah tingkah laku dan menunjukkan perilaku oposisi, dimasukkan dalam berbagai kelas khusus untuk anak-anak yang mengalami gangguan perilaku, dan mengalami kesulitan untuk berinteraksi dengan anak-anak seusia mereka ( Barkley dkk., 1990; Faraone dkk., 1998 ). Tidak jelas apakah beberapa perbedaan yang tampak antara tipe kombinasi dan tipe predominan inatentif juga terdapat pada anak-anak perempuan dengan ADHD ( a.l., Biederman dkk., 1999; Hinshaw, di media; Hinshaw dkk., di media ).
Kesulitan dalam membedakan diagnosis adalah antara ADHD dan gangguan tingkah laku ( GTL ), yang mencakup pelanggaran besar terhadap norma-norma sosial. ADHD lebih berhubungan dengan perilaku tidak mengerjakan tugas di sekolah, kelemahan kognitif dan rendahnya prestasi, dan prognosis jangka panjang lebih baik. Anak-anak yang mengalami gangguan tingkah laku bertingkah di sekolah dan dimana pun kemungkinan jauh lebih agresif serta mungkin memiliki orang tua yang anti sosial. Bila kedua gangguan tersebut dialami oleh seorang anak, karakteristik yang paling buruk dari masing-masing gangguan tersebut akan terwujud dalam perilakunya.
ADHD dapat terjadi lebih dulu, dengan perilaku buruk si anak yang menimbulkan reaksi keras dari teman-teman sebaya dan orang dewasa; kemudian situasi tersebut memburuk dengan serangan balik yang lebih ekstrem, yang akhirnya menghasilkan perilaku agresif yang merupakan karakteristik gangguan tingkah laku. Gangguan internalisasi, seperti kecemasan dan depresi, juga sering kali dialami bersamaan dengan ADHD. Sangat banyak bukti yang mengindikasikan bahwa ADHD lebih banyak terjadi pada anak laki-laki daripada anak perempuan, namun angka pastinya tergantung pada apakah sampel tersebut diambil dari rujukan klinis atau dari populasi umum.
Sebagian besar anak yang meman mengalami ADHD menunjukkan aktivitas berlebihan dan perilaku temperamental pada usia yang cukup dini. Rasa ingin tahu mereka yang berlebihan dan sangat energetik dalam bermain membuat perlindungan anak menjadi hal penting untuk mencegah berbagai tragedi seperti keracunan tanpa sengaja, jatuh terjungkal dari tangga, dan jatuh dari jendela. Masa-masa prasekolah sangat penuh stress bagi orang tua yang memiliki anak ADHD, masalah yang timbul semakin besar ketika anak-anak mulai bersekolah dan mendadak diharuskan untuk duduk tenang dalam waktu yang cukup lama, menyelesaikan tugas-tugas secara mandiri, dan bernegosiasi dengan teman-teman sebaya di lapangan bermain.
3. Teori Biologis ADHD
Faktor genetik. Bila orang tua mengalami ADHD, sebagian anak mereka kemungkinan memiliki gangguan tersebut ( Biederman dkk., 1995 ). Mengenai apa tepatnya yang diturunkan dalam keluarga hingga kini belum diketahui, namun berbagai studi baru-baru ini menunjukkan bahwa fungsi dan struktur otak berbeda pada anak-anak dengan dan tanpa ADHD.
Faktor-faktor Perintal dan Pranatal. Berat lahir rendah, contohnya merupakan prediktor yang cukup spesifik bagi perkembangan ADHD ( a.l., Breslau dkk., 1996; Whitaker dkk., 1997 ).
Racun Lingkungan. Beberapa teori ADHD terdahulu yang cukup popular pada tahun 1970-an menyangkut peran berbagai racun lingkungan dalam terjadinya hiperaktivitas. Feingold mengemukakan bahwa zat-zat aditif pada makanan mempengaruhi kerja sistem saraf pusat pada anak-anak hiperaktif dan ia meresepkan diet tanpa zat aditif. Pendapat popular bahwa gula putih dapat menyebabkan ADHD ( Smith, 1975 ) tidak di dukung oleh peneliti teliti ( Wolraich, Wilson, & While, 1995 ). Nikotin, terutama merokok ketika hamil merupakan racun lingkungan yang dapat berperan dalam terjadinya ADHD.
4. Teori Psikologis ADHD
Psikoanalisis anak, Bruno Bettelheim ( 1973 ) mengemukakan teori diathesis-stres mengenai ADHD, yang menyatakan bahwa hiperaktivitas terjadi bila suatu predisposisi terhadap gangguan tersebut dipasangkan dengan pola asuh yang otoritarian. Jika seorang anak yang mengalami disposisi aktivitas yang berlebihan dan mudah berubah moodnya mengalami stress karena orang tua yang mudah menjadi tidak sabar dan marah, si anak dapat menjadi tidak mampu manghadapi tuntutan orang tuanya untuk selalu patuh. Dengan terbentuknya pola perilaku mengganggu dan tidak patuh, si anak tidak dapat mengatasi berbagai tuntutan di sekolah, dan perilakunya sering kali bertentangan dengan berbagai aturan di kelas.
5. Penanganan ADHD
ADHD umumnya ditangani dengan pemberian obat dan berbagai metode behavioral berdasarkan pengkondisian operant.
Pemberian Obat Stimulan. Obat-obat stimulant, khususnya metilfenidat, atau Ritalin, telah diresepkan bagi ADHD sejak awal tahun 1960-an ( Sprague & Gadow, 1976 ). Obat-obat yang digunakan untuk menangani ADHD mengurangi perilaku mengganggu dan meningkatnya kemampuan untuk berkonsentrasi. Mungkin uji coba klinis terkendali secara random dengan desain terhadap penanganan ADHD adalah Multimodal Treatment of Children with ADHD, atau studi MTA. Studi tersebut dilakukan di enam lokasi yang berbeda selama 14 bulan terhadap hampir 600 anak ADHD, membandingkan tiga jenis penanganan, yaitu (1) pemberian obat saja, (2) pemberian obat ditambah dengan penanganan behavioral intensif, melibatkan orang tua dan guru; dan (3) penanganan behavioral saja.
Penanganan Psikologis. Selain pemberian obat, penanganan yang paling menjanjikan bagi anak-anak dengan ADHD mencakup pelatihan bagi orang tua dan perubahan manajemen kelas berdasarkan prinsip-prinsip pengkondisian operant. Dalam berbagai penangan tersebut, perilaku anak-anak dipantau di rumah dan di sekolah, dan mereka diberi penguat untuk berperilaku sesuai harapan, contohnya tetap duduk di kursi dan mengerjakan tugas-tugas mereka. Fokus program operant ini adalah meningkatkan karya akademik, menyelesaikan tugas-tugas rumah, atau belajar keterampilan sosial spesifik, dan bukan mengurangi tanda-tanda hiperaktivitas, seperti berlari ke sana ke mari dan menggoyang-goyangkan kaki.
Sumber:
PSIKOLOGI ABORMAL ( jilid 7 )
ANNE M.KRING, dkk..
Langganan:
Postingan (Atom)